header

Boikot Facebook: Ujaran Kebencian Jelang Pilpres di Amerika dan Indonesia

Selasa 05-09-2023 / 13:56 WIB


Boikot Facebook: Ujaran Kebencian Jelang Pilpres di Amerika dan Indonesia

Boikot Facebook 

Dalam upaya untuk memerangi ujaran kebencian dan disinformasi yang meluas di Facebook, koalisi yang terdiri dari sembilan organisasi hak-hak sipil dan advokasi telah menginisiasi gerakan #StopHateForProfit. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk menekan Facebook agar lebih serius dalam merespons isu-isu tersebut dan mengambil tindakan yang lebih tegas. Salah satu strategi yang digunakan dalam kampanye ini adalah dengan memaksa perusahaan-perusahaan untuk menarik iklan mereka dari Facebook, sehingga menghantam pendapatan Facebook yang sebagian besar berasal dari iklan. 


Dampak Boikot 

Boikot ini telah mendapatkan respons yang kuat dari berbagai perusahaan, baik perusahaan kecil maupun konglomerat global. Dalam waktu beberapa minggu saja, ratusan perusahaan telah berjanji untuk menghentikan iklan mereka di Facebook. Boikot ini telah berdampak signifikan terhadap pendapatan Facebook, mengingat iklan berkontribusi 98% terhadap pendapatan perusahaan. Meski demikian, Facebook belum memberikan respon yang signifikan terhadap tuntutan ini. 

Harapan dan Ketidakpastian 


×

Meski belum jelas apakah boikot ini akan menghasilkan perubahan jangka panjang dalam kebijakan Facebook, yang jelas adalah bahwa pengaruh kelompok advokasi dalam menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi semakin besar. Kampanye #StopHateForProfit telah menunjukkan kekuatan tindakan kolektif, menawarkan cetak biru potensial untuk kampanye di masa depan terhadap perusahaan teknologi lain yang gagal mengatasi masalah ujaran kebencian dan disinformasi dengan cukup. 

Respon Facebook 

Sebagai respon terhadap boikot ini, Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook, mengumumkan bahwa ia akan memberikan pidato di Universitas Georgetown. Dalam pidato tersebut, Zuckerberg berencana untuk menguraikan pandangannya tentang "kebebasan berekspresi". Meski banyak pihak mengkritik pidato tersebut, Zuckerberg tetap berkomitmen pada pandangannya tentang pentingnya kebebasan berekspresi, dan berani menciptakan hubungan antara Facebook dan peran penting kebebasan berpendapat dalam sejarah hak-hak sipil Amerika Serikat

Pertemuan dengan Para Pemimpin Hak-Hak Sipil 

Setelah pidato tersebut, Zuckerberg mengadakan pertemuan dengan beberapa pemimpin hak-hak sipil di kediamannya di Palo Alto, California. Meski pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang ramah, beberapa pemimpin hak-hak sipil meragukan komitmen Facebook dalam upaya untuk memerangi ujaran kebencian dan disinformasi. Mereka merasa bahwa hak-hak sipil bukanlah prioritas utama di Facebook, dan perusahaan cenderung untuk memperlakukan kelompok hak-hak sipil dan kelompok konservatif sayap kanan secara moral setara. 

Kesimpulan 

Gerakan boikot ini telah memicu diskusi yang lebih luas tentang tanggung jawab platform media sosial dalam mengatur konten. Meski boikot ini telah memberikan dampak terhadap pendapatan Facebook, namun perusahaan tersebut belum menunjukkan kesiapan untuk melakukan perubahan signifikan dalam kebijakan mereka. Para advokat hak-hak sipil kini berada dalam posisi untuk mencari strategi baru dalam upaya mereka untuk memerangi ujaran kebencian dan disinformasi di media sosial.

TAG: #facebook
Sumber:

BERITA TERKAIT