header

Lahirnya Kampung Muslim Tondano: Catatan Sejarah Para Pengikut Kyai Mojo

Selasa 29-08-2023 / 01:16 WIB


Lahirnya Kampung Muslim Tondano: Catatan Sejarah Para Pengikut Kyai Mojo

Penaklukan dan Pengasingan 

Setelah penaklukan Belanda pada tahun 1829, Kyai Mojo—juga dikenal sebagai Kyai Modjo atau Kyai Madja—dihukum dan menjadi tahanan politik. Berbeda dengan musuh-musuh Belanda lainnya di Hindia Belanda era VOC yang diasingkan ke Sri Lanka atau Afrika Selatan, Kyai Mojo tidak mengalami hal yang sama. Akibat dari Revolusi Perancis, kedua daerah tersebut tidak lagi berada di bawah kendali Belanda, memaksa pemerintah kolonial Belanda mencari tempat pengasingan baru bagi para tokoh Jawa dan Nusantara. Solusi yang mereka pilih adalah Sulawesi Utara, tepatnya di tepi Danau Tondano, sebagai tempat pengasingan bagi Kyai Mojo dan 62 pengikutnya, menurut Roger Allan Christian Kembuan dalam tesisnya berjudul "Bahagia di Pengasingan: Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Buangan di Kampung Jawa Tondano 1830-1908". 


Kampung Jawa Tondano 

Daerah Tondano bukanlah tanah kosong; sudah ada penduduk Tondano yang menetap di sana sebelum kedatangan Kyai Mojo dan pengikutnya. Daerah ini terletak di jantung Minahasa di jazirah utara pulau Sulawesi, dan pernah menjadi tempat asal Pasukan Tulungan yang dipimpin oleh Mayor Dotulong selama Perang Jawa (1825-1830). Belanda memiliki garnisun militer yang cukup besar di daerah ini untuk mengawasi orang-orang yang diasingkan, dan yang paling penting, daerah ini jauh dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, sehingga sangat sulit bagi orang-orang yang terbiasa hidup dengan sistem feodal agraris untuk melarikan diri dan berlayar kembali ke Jawa. 

Pemilihan Tempat 


×

Menurut cerita lisan, Kyai Modjo melakukan ritual pemotongan sapi dan menempatkan potongan daging di beberapa tempat di sekitar Tonsea Lama. Tempat yang dagingnya membusuk paling lama dipilih sebagai tempat penempatan permanen. Tempat tersebut kini telah menjadi Kampung Jawa Tondano, sekitar 1 pal atau 1,5 km dari Tonsea Lama. 

Pengaruh Kehadiran Kyai Mojo 

Orang-orang Tondano pada waktu itu sebagian besar masih menganut kepercayaan lokal dan belum menganut agama Kristen. Mereka sering disebut oleh orang-orang Eropa sebagai "orang-orang liar" atau "penyembah berhala", dan dikenal sebagai Alifuru. Namun, kedatangan Kyai Mojo dan pengikutnya, serta hubungan dekatnya dengan pendeta zendeling Riedel, dimanfaatkan Kyai Mojo untuk melakukan dialog antar agama dan budaya. 

Kampung Muslim Jawa Tondano 

Semua pengikut Kyai Mojo yang diasingkan ke Tondano adalah laki-laki. Mereka kemudian menikah dengan perempuan setempat, dan dari perpaduan dua kebudayaan inilah lahir Kampung Jawa Tondano. Menurut catatan Jaafar T. Buchari, hanya Kyai Mojo yang tidak menikah di Tondano, karena istrinya dari Jawa menyusulnya. Namun, putra Kyai Mojo, Kyai Gazali Mojo, menikah dengan Ingkingan Tombokan. Pada Januari 1831 saja, tercatat ada delapan orang tahanan yang menikah dengan perempuan setempat yang masih menganut kepercayaan Alifuru. Menurut budayawan Jawa Tondano Wahid Koesasie, laki-laki Jawa ini—yang bukan dari kalangan jelata—menikah dengan anak perempuan dari kepala walak (distrik).

Lanjut .......

TAG: #sejarah
Sumber:

BERITA TERKAIT